Menelusuri Candi Losari dan Air Terjun Sekar Langit
Seperti biasa, waktu molor menjadi rutinitas saya ketika melakukan perjalanan wisata atau travelling. Memang sebagian besar bukan disebabkan oleh ulah saya, tapi rekan perjalanan yang saya ajak kali ini yang bernama AM yang bangun kesiangan sehingga rencana berangkat mundur satu jam. Kali itu saya menjemput kawan saya dirumahnya masih tertidur pulas sehingga harus membangunkan dan menunggunya membersihkan diri dan sarapan pagi.
Karena sudah hapal perkiraan lokasi, perjalanan menuju ke obyek wisata yang pertama kali kami kunjungi berlangsung singkat. Lokasi Candi Losari terletak di sebuah gang setelah gerbang perbatasan DIY – Jawa Tengah. Namun kami mulai kebingungan ketika memasuki gang dan menelusuri jalanan tanah yang menuju ke dusun-dusun tanpa menemukan tanda-tanda lokasi Candi Losari. Akhirnya saya bertanya kepada salah seorang penduduk sekitar, diberitahu bahwa lokasi Candi Lokasi berada di tengah-tengah perkebunan salak yang tidak jauh dari Jalan Raya Magelang-Yogya. Kami pun kembali ke area perkebunan salak dan kembali menanyakan lokasi Candi Lokasi tersebut kepada orang yang berada disekitar kebun salak tersebut. Begitu mengetahui lokas candi, kami memarkirkan sepeda motor dan bergegas memasuki kebun salak yang berupa lorong yang menembus kawasan candi.
Ternyata bentuk dan kondisi candi berbeda dari yang saya bayangkan. Sebagian besar bangunan candi masih tertimbun tanah. Candi Lokasi yang terletak di Dusun Losari, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang ini memang belum dibuka menjadi obyek wisata candi dan sementara menjadi lokasi penelitian dari Balai Pelestarian Purbakala Jawa Tengah. Sambil mengamati lokasi, beberapa orang sibuk membuat parit di tepian candi. Tiba-tiba ada seseorang yang sudah berumur menyapa dan menghampiri kami. Beliau bernama Bapak Badri yang ternyata merupaka pemilik kebun salak sekaligus penemu Candi Losari. Cukup lama kami berbincang-bincang dengan Bapak hingga kami berkunjung ke rumahnya untuk mendengarkan lebih lanjut cerita sejarah penemuan Candi Losari ini.
Tidak terasa waktu sudah tengah hari dan kami berpamitan melanjutkan perjalanan menuju obyek wisata kedua yang kami rencanakan yaitu Air Terjun Sekarlangit. Perjalanan kami hentikan sejenak di sebuah SPBU Candisari yang terletak di Muntilan untuk beribadah dzuhur. Perjalanan kami lanjutkan melewati Jalan Magelang-Yogya yang baru saja selesai diperlebar dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memasuki kota Magelang. Masih jauh dari kata dekat, dari kota Magelang perjalanan masih dilanjutkan menuju ke Secang. Tiba di perempatan Secang, saya berinisiatif berbelok ke kanan melewati jalanan pedesaan yang sempit. Karena sudah siang dan kelaparan, akhirnya kami membeli mie ayam di tepian jalan sambil bertanya keberadaan Air Terjun Sekar Langit. Rute yang kami pilih memang tidak salah, tapi perjalanan masih membutuhkan cukup waktu.
Tanpa membuang-buang waktu, akhirnya saya yang mengendalikan motor didepan memaksimalkan kemampuan motor untuk segera menuju ke lokasi air terjun. Memasuki sebuah perempatan pasar yang cukup ramai, akhirnya kami berbelok ke arah kiri kemudian di pertigaan yang terdapat selokan mengambil jalan ke kanan. Jalanan mulai menanjak menaiki bukit dan disuatu tikungan kami mengambil jalan ke kiri menuju ke lokasi Air Terjun Sekar Langit. Kondisi lokasi parkir hanya berupa lapangan yang beralaskan tanah, kemudian kami bergeas menuju gerbang masuk dan membayar harga tiket masuk. Dasar seorang petualang pelit, kami pun menawar harga tiket masuk dan berhasil. Dari pintu gerbang, saya dan kawan saya harus berjalan menelusuri jalan setapak yang masuk berupa jalan tanah. Sepertinya pemerintah kurang tanggap terhadap kondisi pariwisata di daerahnya.
Tiba disebuah jembatan gantung, kayaknya memang cocok digunakan untuk berfoto. Jembatan melintang yang berukuran panjang sekitar kurang dari 10 meter ini membelah sungai yang dibagian hulunya terdapat air terjun. Akhirnya kami tiba di dekat air terjun. Air Terjun Sekar Langit yang berada di Desa Tlogorejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang ini memiliki ketinggian sekitar 25meter. Suasana disekitar air terjun cukup sepi, hanya terlihat beberapa orang yang mengunjungi objek wisata ini. Derasnya air terjun ini sepertinya tidak dipengaruhi musim panas yang terjadi di negeri ini. Sehingga saya tidak menyia-nyiakan waktu untuk memotret keindahan Air Terjun Sekar Langit dengan menggunakan kamera kesayangan saya.
Waktu sudah sore, akhirnya kami mengakhiri perjalanan kali ini dan bergegas menuju ke kota Yogyakarta. Namun, dalam perjalanan kami mendapat musibah. Bagian injakkan perseneling patah dan harus dilas. Beruntung, gigi kendaraan masih masuk di angka satu sehingga motor masih dapat berjalan walaupun pelan. Untuk saja kami menemukan sebuah bengkel las yang masih buka disore hari yang letaknya didekat sebuah pasar. Kesialan kami berlanjut ketika perjalanan pulang ketika memasuki wilayah Muntilan, ban motor belakang tiba-tiba oleng dan ternyata ban bocor. Kali ini kami kembali beruntung dengan berhenti di depan tukang tambal ban. Masalah diketahui bahwa ban dalam yang dipake cacat produksi sehingga terjadi robekan tipis bila digunakan dalam perjalanan jauh. Walaupun mendapat banyak masalah ketika perjalanan pulang, kami merasa puas dengan apa yang diperoleh dari perjalanan wisata kali ini.
Incoming search terms:
- candi losariair terjun sekar langitsekar langitair terjun sekar langit magelangair terjun sekarlangitair terjun sekar langit via secangperjalanan ke air terjun sekar langitsejarah candi losarirute menuju air terjun sekar langitpenemuan candi baru


