Desa Munduk, Salah Satu Kediaman Sahabatku

This item was filled under [ Touring ]

Setelah berkenalan dengan kawan baru yang bernama Dwikoen Sastro, Gde Wibisana, Yanuar A Raharja di kawasan Blue Point Beach, akhirnya saya mengikuti perjalanan mereka menuju tempat tinggal sementara Dwikoen Sastro di sebuah daerah pegunungan yang terletak di Kabupaten Buleleng, Bali. Sebelumnya kami menaruh salah satu kendaraan agar bisa berboncengan. Ini kali pertama saya melakukan perjalanan malam hari dengan menggunakan sepeda botor di Bali.

Perjalanan dimulai melewati jalan kecil yang tujuannya mempersingkat jarak dan waktu. Sempat kami mengisi bahan bakar kendaraan di tengah perjalanan dan kehujanan sebentar yang membuat kami berhenti beristirahat di sebuah warung kopi tepi Danau Bratan. Setelah melewati jalan yang turun naik dan berkelok-kelok akhirnya kami sampai di rumah sementara Dwikoen Sastro yang merupakan kediaman Putu Ardana.

Karena larut malam, pemilik rumah sudah tertidur lelap. Anjing peliharaannya yang dilepas di halaman rumahnya menggonggong tidak berhenti. Karena Putu Ardana ditelepon tidak ada jawaban, Dwikoen berinisiatif memanjat gerbang dan mengambil kunci gerbang untuk membuka pintu. Sepertinya Dwikoen sudah terbiasa di rumah itu dan tidak berapa lama gerbang dibuka dan kami membawa masuk motor kami. Memasuki rumah, kami tidak buru-buru tidur. Kami melepas lelah dengan bersantai di teras rumah sambil minum kopi. Dasar saya memang kecapaian, setelah kopi habis rasanya bertambah ngantuk sehingga langsung menuju ke tempat tidur.

Keesokan paginya, saya bangun paling awal yaitu pukul setengah enam waktu Bali. Matahari belum muncul dari balik peraduannya. Saya mempersiapkan kamera untuk mengabadikan momen terbitnya matahari di desa ini yang tadi malam sempat dibiacarakan menarik. Saya menuju sisi rumah bagian belakang yang ternyata berupa tebing yang menghadap ke gugusan pegunungan yang saya perkirakan menarik karena masih terlihat gelap.

Saya sempat mengabadikan foto yang berupa siluet gunung yang berlangit biru yang terkena sinar matahari pagi. Kemudian saya menuju ke kamar untuk mengecek apakah kawan-kawan sudah bangun. Menikmati kopi sejenak bersama-sama sambil berkenalan dengan pemilik rumah yang bernama Putu Ardana. Sahabat yang satu ini cukup ramah dan sangat baik menyambut kami, bahkan meminta maaf karena tadi malam sudah tertidur pulas tidak bisa menerima panggilan telepon dari kami.

Setelah cukup berbincang-bincang, Dwikoen mengajak kami menengok salah satu danau yang ada di dekat Munduk. Akhirnya kami pamit sebentar untuk jalan-jalan menuju Danau Tamblingan sambil membawa kamera untuk berburu foto. Danau Tamblingan ini lokasinya berdekatan dengan Danau Buyan. Selain terlihat alami dibandingan dengan Danau Buyan, di tepi danau ini terdapat pura air yang berdiri megah. Sambil mengabadikan keindahan alam, saya berpapasan dengan sekelompok fotografer yang akan melakukan preweeding di Danau Tamblingan

Tiba di rumah dengan keadaan basah akibat sempat kehujanan sebelum berteduh, kami disambut tawa pemilik rumah dan dua orang tamu yang kebetulan berkunjung kerumahnya. Ternyata sudah saling akrab dengan Dwikoen sehingga pembicaraan terus berlanjut. Masato dan Yveete, nama kedua orang yang berkunjung kerumah Putu adalah seorang Indonesia dan seorang warga salah satu negara di Eropa. Seperti yang saya tahu, Yveete sudah menetap sementara di Indonesia selama 6 bulan dan sudah sedikit-sedikit mengerti bahasa Indonesia. Jujur, saya sendiri malu karena membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengerti bahasa Inggris.

Yveete bercerita bahwa dia sedang liburan disini kemudian betah dan menetap di Indonesia (Bali). Menurutnya Bali merupakan daerah yang eksotis dan kental dengan budaya. Dia juga pandai melukis dan mempersembahkan sebuah lukisan kepada sahabatnya Putu Ardana berupa lukisan almarhum ayah Putu Ardana. Perbincangan dilanjut mengenai kopi. Kebetulan Munduk banyak terdapat perkebunan kopi dimana Putu Ardana merupakan salah satu pemilik kebun kopi tersebut. Saya menyimak lebih lanjut dan baru tahu bahwa salah satu kuliner minuman Kopi Bali itu berasal dari tanah Munduk, disamping kopi dari Kintamani juga cukup terkenal. Akhirnya saya harus berhenti mendengarkan perbincangan dan kembali ke kamar untuk berkemas-kemas.

Rasanya saya betah tinggal berlama-lama disini. Walaupun saya menyadari daerah ini tergolong terpencil dan susah mendapatnya sinyal operator. Akan tetapi saya harus kembali ke Denpasar untuk mengurus beberapa keperluan sehingga sore hari saya berpamitan dengan mereka. Sayang, saya lupa berfoto bersama dengan mereka. Saya berharap lain waktu bisa berkunjung kembali ke Munduk, entah beberapa bulan ataupun beberapa tahun. Setelah berpamitan, perjalanan pulang ke Denpasar ditemani oleh Wibisana melewati jalan seperti ketika berangkat ke Munduk.

Sumber Foto:

Tamblingan Lake by Annosmile

Yveete by Miyoshi Masato

Incoming search terms:

    desa mundukdwikoen sastrobagaimana menuju mundukjalan jalan ke mundukkopi mundukputu ardana munduk
Popularity: 424 views
  • No Related Post
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Comment